Copyright © dahanpinus
Design by dahanpinus
Mar 8, 2006

Pucukbunga Pinus



Keindahan hamparan pohon pinus di depan kita, tak pernah nyata bila kau tiada, sepi yang kuharapkan terlalu hampa dirasakan.
Segar warna daun pinus, berkilat seiring kilauan rambutmu yang bergerak-gerak tertiup angin
Kuingat benar saat seperti itu, kau akan bergegas mengikat rambut panjangmu
Dan aku akan mengambil daun pinus, kemudian kutangkup di jari kananku
Kau pasti tertawa,

Repetisi yang selalu dapat merindukan.
Lalu, kita akan berjalan menyibak alang-alang dan kumpulkan bunga pucuk pinus yang berguguran.
Kesia-siaan yang telah kita kumpulkan, hanya untuk dipandangi dalam-dalam.
Bukan melalui kata-kata, tapi tatapan dengan hati yang berbicara
Sungguh dengan itu, kita kaitkan sepasang sayap yang memang berbeda untuk mengepak beriringan.
Hinggap dari dahan ke dahan, bermain dengan pucuk-bunga pinus yang masih segar
Melagukan kesedihan dengan nada menghentak riang, lalu kemudian kita tertawakan.

Di pucuk bunga pinus itu kita titipkan sesuatu,
satu yang terbaik yang kau pilih,
satu terbaik yang kuinginkan

Saat langit tak memungkinkan untuk kita tinggal, dan mengusir kita pulang,
kita tukarkan pucuk-bunga yang kita percayai sekedar sebagai kenangan.
Dari ingatan tentang 2 perbedaan dengan kesamaan impian.

Aku terlalu sombong untuk ungkapkan kejujuran dengan kata-kata.
Atau kehabisan diksi, untuk tuliskan perasaan dengan puisi yang memabukkan
Meski kau ajarkan dengan segenap kesungguhan, juga kemampuan terbaik yang kau persembahkan, tetap saja aku tak dapat tafsirkan dibalik pucuk pinus yang kita tukarkan
Meski aku tahu benar kebahagiaan yang kau hadirkan sungguh berkesan dan bukan kewajaran, bahkan bersanding bersama ketakutan. Seiring seramnya langit kelam di hutan pinus, yang mengusir pulang.
Kita memang pulang.

Kadang aku tak ingin kembali ke hutan pinus yang kau temukan,
Tapi angin selalu menebarkan bebauan pucuk-bunga pinus yang dihari sebelumnya kau tukarkan, untuk kembali datang,

Saat aku datang sendirian di hutan pinus yang kau temukan,
kesepian yang terasa adalah hampa yang menyiksakan.
Tapi di lain hari tingkahku dalam kekalutan saat kutahu kau datang awal, dan berbaring sambil mainkan pucuk pinus yang berguguran.
Lalu kau genggam pucuk pinus itu terlalu erat, dan merapatkannya
Didadamu,
Tepat dihatimu,
Ingin kukatakan agar kau segera mencampakkan pucuk pinus itu,
lalu mengusirku karena telah usik kesendirian yang kau banggakan di hutan pinus yang kau temukan,
Tapi,
Yang kulakukan hanya duduk dibelakang mengamati kesendirian yang kau rasakan, bahkan berharap kau segera sambut kedatangan karena butuh bantuan kumpulkan pucuk-bunga pinus yang berguguran.

Repetisi itu sudah dapat dirasakan dan aku biarkan,,
membahagiakan sekaligus menakutkan.
Saat angin semakin kencang menerpa daun-daun pinus,
kau akan bergegas mengikat rambut panjang seperti kebiasaan,
dan kurelakan hatiku terkait bersama ketakutan.
---
Semarang, 8-3-2006
---

2 comments:

Anonymous
at: 9:41 AM said...

serasa habis seluruh darahku nih...
:(
JELEKKK.... bisa telpon aku sekarang gak?

Anonymous
at: 10:21 AM said...

kugenggam pucuk pinus dalam kesendirian
erat, rapat di dada
tepat dihati

di tengah hutan pinus yang kutemukan
angin menerpa kencang
kuikat rambutku perlahan
dan pucuk pinus terus berguguran

jauh disana kau berdiri
menatap pucuk pinus yang berjatuhan
kemudian memungut satu dan kau lemparkan
katamu untuk ikut kukumpulkan
kugenggam...
erat, rapat di dada
tepat dihati

coba tanganmu kau ulurkan
sekali waktu rambut ini perlu diikatkan
tapi tidak, jangan...
di hutan yang kutemukan,
kita hanya mengumpulkan pucuk pinus yang berguguran