Copyright © dahanpinus
Design by dahanpinus
Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts
Aug 18, 2024

Lebih baik dengan harapan


Pagi menumbuhkan asa seperti surya,
meski pinus tak lagi belantara,

Sirna dalam debu dikremasi alam,
seperti tiada harapan...

Tapi bukankah berjuang dengan harapan,
lebih baik daripada menyerah dengan kenyataan
Nov 24, 2016

Departure


Rasanya aku akan semakin menyukai hujan,
padahal sebelumnya rasa itu berimbang
kadang mengumpat juga kadang menunggu kedatangan
Entah, karena akhir-akhir ini hujan seperti membawa kerisauan
yang berisik mengkritik tentang sekarang juga harapan,
mengungkit lampau yang mudah dipersalahkan
tentang satu pilihan yang menjelma jadi suatu enigma
pohon penuh cabang dan ranting
yang susah diprediksi mana pertumbuhan;
senang dan sendu berganti
juga tumbuh dahan kokoh dan ranting rapuh 
Ya, aku sering kali menggunakan argumen tentang keseimbangan
dan hebatnya selalu aku tempatkan diriku di sisi bijak baik atau tenang
Padahal satu kenyataaan yang tak suka kuceritakan;
aku sudah tiada sanggup menyalahkan
mungkin karena hanya pohon ini yang kuyakin mampu menahan hujan,
itu keyakinan.

Jika nanti alam menginginkan untuk rubuh, maka aku akan melenggang...
mungkin,
dan disela separuh kerelaan aku akan terus merapal mantra:
dari awal aku pengelana,
terbiasa miliki (hanya) yang dibadan,
juga lepaskan pikulan
aku pengelana,
yang awalnya berjalan sendirian,
sekitaran hanya atribut yang melenakan
Sekarang, aku berada di ujung tergelap dan terkelam
Atau mungkin aku terlalu berlebihan menafsirkan keadaan
karena ketidakberdayaan.
Hujan kencang, membuatku terpaku bangku
berharap hujan segera bosan
dan aku mulai menikmati (menunggu) bosan
enggan melanjutkan perjalanan

Memang,
beberapa orang bosan dengan harapan
terlebih bercengkerama dengan pemimpi yang terlalu meyakini masa depan
namun tiada berani mengungkap janji untuk menenangkan

mungkin, jenis itu adalah pecundang, yang hanya berani
menitipkan angan pada 3 bintang yang entah di samudera mana berjatuhan,
hebatnya, pecundang yang ini selalu yakin
bahwa bintang menyimbolkan terkabulnya harapan
meski awan yang biasanya berkawan
membawa titik gelap gusar dan ragu mengusik keyakinan
jika, andai jika
awan tak mau berteman dengan pohon atau pengelana,
maka sungkan untuk memaksakan
karena cerita tentang angan lama kelamaan mungkin membosankan
hanya saja,
tetap akan kurapalkan (dalam separuh kerelaan);
aku pengelana yang terlahir tanpa atribut kepemilikan,
jadi ditinggal atau berjalan sendirian
semestinya tak untuk membuat padam
-------------------
Nov 15-2016
Jul 10, 2016

"Stat astra pristina nomine; nomina nuda tenemus."..

aku hanya mengerti bintang bila terang atau berkelipan
padahal mereka fana, atau seringkali terbenam oleh imaji awan
aku hanya memahami sinar bila dilimpahi olehnya
padahal mereka hanya berarti apabila kelam menenggelamkan
aku hanya menginginkan kau ada diam bersama
padahal kau sering ternafikan dan terbelenggu bosan menanti ketidakpastian
sesungguhnya...

aku sungguh memiliki saat ketiadaan, begitu lekat mendera.
sesungguhnya, 

dan setelahnya atau nanti dikemudian 
saat aku akan mengenali. kau sebagai bintang atau nama 

apapun yang tidak kupedulikan. 

asal aku cukup memahami bahwa kesedihan 
adalah kebahagiaan dengan perbedaan pelabelan

---
Reply komen, 27 Nov 2009
Apr 19, 2016

Bila ku gusar pada kepastian


Bila ku gusar,
sekian kaki kulangkahkan ke depan juga arah kebalikan
sambil bergumam rapalan yang entah dapat menentramkan
dan terngiang begitu saja kalimat yang menurutku benar
ternyata salah atau mungkin terlalu lugas ditafsirkan
sepertinya aku berusaha jujur sampaikan,
bahwa terik membuatku geram,
menarik habis energi sampai hampir padam

Juga disisi lain kuceritakan keraguan akan sebuah oase
yang dekat dengan entah pohon rindang,
juga menggoda dengan keteduhan
tapi itu membuatmu dan kita saling geram,
meski tetap kuharap oasemu
dengan pohon ara yang tak kunjung ditemukan

Lalu, kau yang minta aku bersabar
    (dengan kemarahan atau kecemburuan ?)
sebuah kesabaran yang sejujurnya masih kuperjuangkan,
meski kuakui tergoda melintas dipinggiran oase terdekat,
sekedar memeriksa sebentuk nyaman yang ditawarkan

Aku hanya laki-laki dengan banyak kekurangan,
dan kelebihan pun tidak mampu menjadikanku begawan
Sayangnya,
telah pun kau hakimi seolah masuk dalam kenyamanan yang tak legal
Karena aku sampaikan kejujuran ?
Sebenarnya, yakinlah bukan itu yang kurindukan,
dan cobalah lagi ceritaku kau camkan,
lalu cobalah sampaikan saja suatu kepastian,
bahwa oasemu dengan ara disana merindukan pengembara yang bersabar,

Setidaknya sampaikan melalui angin untuk mengibas rambut kelam
pada setiap saat aku kehausan dan mulai gusar,
namun,
darimu kudapatkan badai berputar,
yang semakin mendorongku di tepian oase dengan entah pohon rindang

Dan aku masih bertahan,
sepertinya akan tetap bertahan,
dengan beberapa bentuk ingatan.
yang menantimu datang,
melalui hembusan yang menyejukkan mengibas rambut kelam,
dan membisikkan bahwa buah kesabaran
telah menunggu dari ara di depan,

Dan aku masih menanti, hembusan angin yang gantikan
Mar 13, 2016

kau berarti gerimis


kau berarti gerimis
dari langit kelam terwujud
butir-butir harapan jadi kenyataan
dalam alunan yang membawa pilu

mengobati luka pengurai noda
atau sekedar memuaskan hasrat bunga-bunga
tak terungkapkan betapa kudamba alunan rintik
sesederhana kelu

atau kadang seperti bait-bait serenada
yang tercipta dari tangisan
dan kilauan bulir-bulir kesedihan
karena sadar akan terpisah kembali

kau berarti gerimis
terlahir dari kesedihan yang mendewasakan
kesabaran untuk menanti
kembali dan pergi lagi

membuat riuh dengan hening
mengisi sepi dengan sepi yang berarti
atau meninggalkan genangan refleksi diri
bagi langkah yang terayun nanti

demi kedukaan tersusun merdu
jangan kau bawa semua gerimismu
karena akan tetap ada di sudut lagu
karena kau...
berarti gerimis
---
Semarang
Mar 3, 2016

sebuah alienasi yang dilepaskan


Sedang kusisipkan guguran daun pada buku usang
yang tersimpan
Sebelum kau paksa kembali untuk buka
pada ingatan yang sedianya ingin hilang

Baiklah, kau selalu bilang tentang ideal
jua terbiasa untuk membuka tutup wadah ingatan
seperti mengambil kelereng dan kau mainkan
sesukamu
tak sadar jika aku juga memiliki sebagian

Mungkin, kau sadari tapi tak pernah pedulikan kegagapan
yang kucoba tenang sekeras karang
dan, aku sadar tak mungkin memberi terang pada langit kelam
pun menyalahkan hujan karena selalu membuat gusar

dan, aku masih mengagumi pada titik tenggang
saat memaki jalanan,
lalu kusalahkan diriku karena terlalu absurd
menaklukkan godaan agar tidak menghukummu
dalam nafas yang berkejaran
seperti yang biasa kita lakukan

apakah itu mudah untuk dilupakan ?
mereka akan serta merta datang,
seiring ;
hujan,
guguran daun,
deretan hutan pinus
dan kelopak sakura berkembang

menerima setiap tanda
sepantasnya membuatku
merasakan sebuah sepi yang kurindukan
karena banyak ramai pun tetap tak juga kupaham
setidaknya dalam sepi imajimu tak buram
semakin terang tapi sungguh menyakitkan

Seiring dengan naik turun perasaan
dan permintaan agar mengikuti etika,
yang memang tidak untuk kita perdebatkan
itu kicauanmu yang selalu aku abaikan

dan aku belajar untuk enggan berjanji pada apa yang tidak bisa kulakukan

aku hanya belajar menjaga keseimbangan,
menekan hasrat yang dulu kita bagikan
menjadi gersang,
lalu dingin
sebelum musim semi datang
dan berkembang sekerasnya untuk beberapa minggu keindahan
menghilang kembali sampai musim mendatang

jika tentang rindu yang ditanyakan
mudah saja nanti akan ditemukan
pada sekawanan gagak lapar
yang menanti langit dan kabut kelam
di hutan pinus tempat mereka tinggal

sisi gelap yang selalu terkenang dengan ketakutan
milikmu,
tempat dimana kegilaan yang sejatinya membuat terbebaskan
makhluk liar dari alienasi norma menjemukan

dan sungguh cinta dan hasrat sangat tipis berbatasan

---
Semarang, Januari Februari 2016
Jan 13, 2016

dan aku masih, tetap dan akan...

dan aku masih, tetap dan akan

tak bisa kukatakan itu
meski puluhan kata berdesakdesakkan nyaris terujar
bisa kutahan selama kumau
dan akan kucerap tanda yang merujuk darimu

saat ini aku ialah akibat, yang menunggu
atau menahan lisan untuk kukuh
dari hati yang sudah jenuh
untuk hanya terkubur penuh

aku mempelajari setiap ketidakhadiran
merenungi setiap pengabaian
juga memberi tafsiran pada setiap keraguan
lalu aku tulis masing-masing dengan catatan kaki
yang mudah dimengerti
dengan beberapa warna warni
sampai membentuk imaji
akan kenangan waktu disitu
dan disini kau menemani dalam bayangmu

tak tergantikan oleh apapun itu
dan aku akan memilih untuk menunggu

juga kurayakan sebentuk kehadiran
dalam kata sederhana meski nirlisan
melalui selebrasi yang kurahasiakan
seolah aku tegar
bahwa inilah cypress yang selalu bertahan
meski didalam selalu kugumamkan
aku sanggup menangis karena kerinduan
yang terus kutahan
untuk tak terujar

kegembiraanku membaca tanda senyummu
meski kadang aku ragu apakah itu milikku
setidaknya biarlah aku yakini seperti itu
karena hakikat kebahagiaanku adalah meyakini
sesuatu khusus untukku

sungguh aku tahu perasaanmu
menyimpan nada yang seirama
karena alunan kita pernah nyata padu
menahan sekerasnya agar tak lampaui batas itu

meski gejolak itu meletup disini dan disitu
dan kau tahu kenapa aku tak pernah mengucapkan
janji akan kita hentikan semua itu
meski aku sepenuhnya kenali kapan

karena aku belum siap;
melihatku, melihatmu sakit atau gila tak tentu
akan ada saatnya kita akan menerima jauh
tanpa sedikit sendu, bahkan dengan tarian
dan ucapan lantang bahwa aku dan kamu akan tetap disitu
menjadi pemilik masing-masing celah,
yang kita singkirkan dari tekanan-tekanan
yang menuntut kita beranjak dari duduk
atau terbang meninggalkan bumi

tak beban lagi kita
hanya bahagia yang berbeda
seperti seorang pustakawan dengan buku baru
atau botanis dengan benih benih
yang semestinya dirawat tapi akan ikhlas jika mati
karena prosesnya adalah kenikmatan itu

lalu kita hanya berbincang
atau bertemu
entah kapan lagi selanjutnya seperti
menikmati proses, tanpa berharap hasil akhir
sejauh itu bahagia buat ku buat mu

dan tetap yang kau tahu
kamulah pemilik celah itu
tak tergantikan oleh sebentuk apapun
sampai kapanpun

aku akan tetap bahagia dengan menunggu
bahagia dengan senyum sederhanamu
tanpa tekanan dan janji yang membuat kita
kabur dari hidup yang terlanjur dipilih
---
dan aku masih... tetap... dan akan...

Dec 28, 2015

aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati

asal kau tahu saja
(aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati)

Yoseph'...

hatiku sudah tertinggal sejak memandang papirus
juga bunga-bunga bungur serta biji-biji saga yang berguguran
atau entah tabubeya yang berkembang kuning terang
lalu cerita tentang trembesi yang tak pernah berluruhan
meski kemarau panjang

atau juga pohon yang kukira randu
-dengan kapas beterbangan bagai salju-
lalu aku sembunyikan malu,
dengan geli karena kebodohanku,
bersitegang dengan seorang botanis
dengan keahlian pemeliharaan

lalu sejak entah kapan,
imajimu begitu mencengkeram
tak pernah kuasa menolak ajakan
dimana kutemui serendipiti yang hentikan waktu,
dengan bercumbu bersama gurauan

kita memang bermimpi,
atau mengendarai mimpi
tentang kepingan keabadian
yang mengisi lakuna,
lahir dari rasa yang nircipta
seperti banyak kisah romans yang indah,
namun tragis di akhiran

dalam nuansa guguran bungur,
tabubeya,
kapuk,
atau dedaunan

yang kita hayati,
bahwa masing-masing mempersembahkan kehidupan
dengan teramat indah,
dan sukar untuk dilupakan

Kau tahu,
kisah kita sepertinya akan berakhir dengan kegetiran
atau sudah,
atau mungkin

seperti Minke dan Annelies
juga Laila dan Majnun
atau Gibran dengan May Zaidah

dan asal kau tahu,
aku meresapinya
berdamai dengan hatiku,
untuk tak menafikannya

seperti Majnun dan Minke
yang menghayati sakitnya dengan kegilaan
- Majnun yang menghirup sekuatnya angin dari arah desa Laila, dengan segenap rasa
dan sedalamnya dengan satu keyakinan bahwa sebelumnya angin pastilah menyentuh tubuh Laila -

Juga Minke,
atau Annelies kalau kau ingin contoh perempuan
yang mendadak membuat dirinya gila,
dengan berdiam diri sepanjang samudera
sampai ke Holland,
dan menatap kosong kehidupan,
karena menganggap Minke tidak cukup berjuang
untuk mendapatkan

dan tahukah kau,
mereka adalah perwakilan dari kisah kenyataan
yang kita anggap dongeng sekarang,
juga terlalu dramatis untuk senyatanya kehidupan
entahlah, jika kau anggap;
kita,
aku,
kamu
apapun yang ideal
untuk satu hubungan
yang sedikit kemungkinan terbumikan

asal jangan kau anggap kita bermusuhan
karena
untukku
atau
kita
tidak akan adil
jika kita sekarang
memberi kesempatan pada orang 'lain' berteman
sedangkan kita sendiri,
mencoba untuk saling mematikan
- bukankah kita sepasang kekasih
yang tak elok untuk diucapkan dengan lantang -

Aku paham,
jika sesekali atau seringkali mata kita pejamkan
agar menghindarkan
imajimu
dan imajiku
agar tidak terlalu bergetar

tapi ingatlah hati,
tidak akan mungkin kita pejamkan
untuk melupakan setiap kenangan
di pepohonan dan bunga yang kita bincangkan
juga disudut sudut kota tempat kita
hentikan masa dengan cumbuan

Marilah kita ukur,
siapa yang lebih gila duluan,
atau yang lebih besar dengan penderitaan
Majnun atau Laila
Minke atau Annelies

akan aku katakan,
aku berdiri disini
dalam perjalanan sunyi,
terkurung keterasingan
maka aku rentan
pada semua ketidakmapanan,

aku merenungi ketidaksiapan,
meratapi setiap tarikan nafas
dengan ketiadaan
akan bayangmu yang selalu datang
meski aku berbincang dengan puluhan orang
jua memikirkan hal yang tak ada kaitan
Aku hancur,
sejak
maaf
maaf
maaf
maaf
-mu
kau ulang

-hancur-

karena kau juga tak paham
akan ceritaku tentang kerapuhan
saat terbelenggu kesunyian

dan kau,
kau dilingkupi oleh banyak kasih sayang
tempat yang nyaman yang membuatmu sekuat ilalang
yang setiap saat akan datang siapapun,
atau apapun yang menarikmu
saat kau tenggelam dalam ketidakwarasan,
atau tempatmu bersandar
saat kau tak kuasa menahan tangisan

asal kau tahu,
aku tidak baik-baik saja
dalam halusinasi berkepanjangan,
putus asa seperti mayat hidup yang berjalan
dengan rutinitas sedangkan pikiranku melayang
ke situs dan candi juga jalan-jalan
tempat kita mengelabui waktu

Kau pasti akan menyanggah
bahwa yang lebih gila adalah dirimu
meski aku tidak akan percaya,
dengan alasan bahwa kau dalam lingkungan nyaman
dengan lingkup kasih sayang yang berlebihan
seperti yang telah kukatakan

Namun,
hari ini aku membaca lagi kisah Laila juga Annelies
dimana perempuan memiliki cara,
untuk menghayati dengan sangat dalam
meski mereka tampak menerima
keadaan dengan tenang

seperti laila yang mempertanyakan
tentang sebentuk kegilaan yang dikumandangkan Majnun
dengan sebuah kalimat yang berujung pada kematiannya;

"Engkau bisa menggunakan pelampiasan kerinduan dengan puisi,
bertingkah gila dan berteriak sesukamu.
Tetapi aku memendamnya sendirian,
membiarkan api membakar tubuh dari dalam, bertahun-tahun.
Jadi,
masihkah kau pantas dirimu yang paling menderita karena kenyataan?"

Aku semakin paham;
karena Annelies juga memendam perasaan itu dengan diam,
sampai api itu merenggut hidupnya
sementara Minke melampiaskan,
kemarahan akan kegilaannya
dengan menulis dan bertualang.

Baiklah, akhirnya aku paham
tak pantas mempertanyakan penderitaanmu
juga kegilaan yang kuanggap
tak sepadan dengan yang kurasakan

dan aku yakinkan,
meski aku laki-laki,
rasa ini tidak sekedar
dan sepintas lalu hasrat hilang
dia telah menetap,
memintaku tetap berdiri
berdamai dengan hati,
dengan satu keyakinan

bahwa kita akan menghargai dengan kekaguman
juga satu pengetahuan
bahwa tak adil bagi kekasih
-meski tak elok diucapkan lantang-
untuk jadi bermusuhan,

dan ini adalah,
bagian dari kita sebagai terpelajar
dengan berdamai juga adil sejak dalam pikiran,
juga rasa dan tindakan

ingatlah,
bahwa aku menghayati rasa menjadi sebuah kerinduan spiritual,
sesuatu yang tak memerlukan kata untuk mengungkapkan
lalu akan terdengar lewat kesunyian malam dan derai hujan
seperti Gibran dan May yang meresapi tanpa tatapan
----
Desember 28, 2015

Berharap Desember cepat berlalu
Bungur itu, Sakura...
Dec 14, 2015

Sebut ini introvert

Sebut ini introvert


Bukan melarikan diri atau melampiaskan kesal
Karena seekor burung kecil atau ikan kecil di arus deras 
tak pantas untuk geram,
pun akan diam pada palung tenang
Apalah artinya ada jika tidak mengada,
menjadi kebanyakan kemudian terlupakan
Satu tepukan tangan di kerumunan tak akan menambah keceriaan

Aku diam, dan diam adalah sebuah pilihan
Diam dalam teman yang berangsur jadi posesif memuakkan
Pada setiap penilai dgn entah sudut pandang,
membuat standar umum dari aku-kamu kepentingan

Aku adalah kepingan yang teralienasi dan mengalienasikan diri dari benderang,
gegap gempita yang berkelanjutan
Aku hanya butuh diam, seperti terang yang membutuhkan padam
Tak peduli waktu seberapa panjang,
 tubuhku akan paham kapan butuh sinar

Aku hanya ingin lebih baik kemudian,
dalam gelap yang membuat berpikir lebih tajam
Aku hanya tak ingin menyakitkan dengan skeptisme
 yang mencemooh setiap kesinisan senyuman dan canda yang menjemukan.
---
Semarang, 08/02 2015
Nov 10, 2015

kukumpulkan dedaunan impian


Aku hanya mengumpulkan dedaunan kering yang berjatuhan,
kupikir mereka terlalu indah jika terbiar dimakan cacing tanah
atau pudar dalam tanah basah
iya terlalu indah,
karena dedaunan maple adalah simbol dari impian,
setidaknya bagiku yang tinggal pada belahan tropis yang terang

Untukku, pepohonan dan hutan adalah semacam jalan keluar
saat aku jengah atau gusar lalu rindu akan dekapan
setidaknya aku tahu,
bahwa kau juga memiliki kegemaran yang seragam
jadi aku tidaklah sepi sendirian,
setidaknya itu yang kuyakinkan

Lalu hutan yang dipenuhi oleh cypress dan maple ini,
hanya sebuah tanda
bahwa kuanalogikan satu belahan bumi disana,
untuk kesini seolah datar

huh,
tak serumit itu sebenarnya
aku hanya menempelkan imajimu dalam setiap hutan dan pepohonan yang kulalui
lalu tanpa sadar,
bayangan itu mengajakku memunguti dedaunan impian yang berguguran,
kita kumpulkan satu persatu,
seperti kesiaan yang kita punguti untuk dipandangi dalam-dalam

Tanpa kata-kata,
karena seringkali hanya berujung debat panjang
tapi dengan tatapan,
hati kita yang berbicara
lalu dengan itu,
kita mampu rangkum dua sayap kiri kanan untuk terbang
singgah di dahan-dahan pohon maple,
melagukan sendu namun dengan distorsi dan penuh hentakan,
sebagai bentuk geram pada nasib yang tak elok untuk diperdebatkan,
dan kita tertawakan setelahnya

Masih, kupunguti dedaunan maple yang berguguran,
disampingmu yang hadir setiap mata kupejam
pada setiap daun kupilih yang terbaik,
sehingga dia lebih tahan untuk tiga bulan mendatang
iya,
hanya waktu yang sanggup aku janjikan sekarang

juga waktu yang saat ini mengusirku kembali atau pulang,
tak mampu juga aku kirimkan dedaunan maple yang telah ditangan,
hanya mampu kusampaikan pesan bahwa ini bukanlah sekedar daun kering
tetapi ialah sebuah penanda tentang dua perbedaan,
dengan impian yang seragam
maafkan jika terdengar seperti bualan

Aku memang tak pandai berkata-kata,
hanya  gadungan yang tak mampu mempesonakan setiap gadis dengan rayuan
juga, terlalu angkuh untuk sampaikan kejujuran,
dengan memujimu terang
Ya,
aku mungkin hanya berdalih,
bahwa diksi telah kuhabiskan dalam naskah publikasi yang membosankan
meski telah kau ajarkan dengan sepenuh hati,
dibalik biji-biji saga yang kita kumpulkan,

tetap saja ku bebal,
tak jua kusampaikan gagasan dengan kelembutan
namun tetap saja dengan ego yang membakar,

Namun,
dengan sekerasnya kucoba resapkan sekarang
setidaknya kupahami pengalaman yang kau persembahkan,
terlalu dalam dari sekedar kesan
dan bukan suatu kebiasaan,
meski bersanding bersama kelam
senada dengan langit di hutan maple dan cypress
yang memaksaku harus pulang,
ya seperti waktu yang selalu menjadi batasan

Kadang,
aku terlalu takut untuk kembali pada hutan dan pepohonan
tapi ingatan akan biji saga dan guguran bungur selalu bergetar berbayang
pada apa saja tumbuhan,
sehingga tetap saja aku kembali datang
rindu pada pepohonan yang amat dalam

Aku tahu,
sekarang kau ingin sendiri yang tidak berteman
adalah hampa yang menyiksa bagiku,

kau adalah perempuan bijak tenang,
karena dalam kekalutanku,
kau dapat memainkan daun dan bunga yang berguguran,
lalu kau genggam dan melekatkannya tepat dihatimu,

Kucoba selalu tafsirkan bahwa kau sedang menyampaikan suatu tanda
bahwa aku telah menetap dalam,
semoga bukan kesalahan tafsir seorang pecundang

Dan,
aku masih saja mengumpulkan dedaunan maple sampai musim gugur hilang
sebagai suatu persembahan untukmu dan satu pengingat untukku,
bahwa kau terlampau dalam,
tak hanya sekedar sesuatu yang kau ajarkan;
ego agar lebih tenang, juga kesendirian dengan kepedulian

dan jika musim dingin datang,
aku akan sampaikan bahwa rinduku akan kupendam
hanya untukmu sampai tiga bulan atau tahun-tahun mendatang
sampai waktu kita datang,
pun telah kutandai dengan
bisikan pada pohon dan dedaunan,
bahwa aku sanggup membuatmu seorang.

-----

Alishan - Taipei 6 -9 Nov 2015

sebuah catatan tentang ironi


diantara ilalang dan padang tanaman jagung
cerita yang kita bagi adalah tentang kebohongan
tadinya kita sepakati berdua,
kemudian kita ajak teman untuk jadi berlima,
berenam dan lalu menjadi sekawanan gagak dahaga
sekarang kebohongan itu adalah dogma
bahwa begitulah kita, dan beginilah cara mempertahankan hidup mulia
hanya masalah jumlah kebohongan dapat bergema
menjadi kebenaran bersama, iya?
ya, sejarah dipercaya karena dituturkan oleh siapa yang berkuasa
lalu dicatat tebal-tebal ke dalam buku dan nota
tetapi, kita tetap tidak bisa
berbohong kepada padang jagung
dan diantara ilalang gerah, saat kita bersenggama
juga demi gagak yang mematuk nurani
sumir bercampur gelora
ingatkan,
agar kita segera pagari rapat dosa asal kita,
kelilingi dengan kawat berduri,
aliri dengan listrik tegangan tinggi
atau sekalian saja bangun sutet,
hingga tak ada yang berani tinggal didalamnya
lalu kita sewa; penulis hebat, rohaniwan, penegak hukum
juga politikus untuk memaklumkan perbuatan dari sisi yang luar biasa,
sehingga kita menjadi sepasang legenda
bahwa dosa ternyata bisa saja mulia
---
10 Nopember 2009
perjalanan dari Ketep ke Kopeng Salatiga
cuma pake kamera pocket digital.
Aug 28, 2015

Perahuku adalah kata

Aku belajar tentang sebuah rasa yang tertuang melalui kata.
Kata yang kau kira mudah tertulis ucapkan, berlalu cepat bagai debu
yang larut dalam hujan tertulis di kemarau panjang.
Bagiku kata ini adalah perahu, kupersiapkan dengan dayung dan layar yang
kuanyam dengan benang kesadaran antara nyata dan maya.Tidak hitam
atau putih tetapi abu-abu sebagai warna. Kau tahu kenapa?
Karena dibatas maya dan nyata kau ada di pusara jiwa.

Perahuku berbekal kunang-kunang yang kusimpan dalam gelas kaca,
bekas wadah carica, kututup dengan plastik berlubang secukupnya
agar membuat mereka menghirup udara sebebas di awan
Paling tidak dalam 2 minggu dia akan berkedip saat malam,
menemani agar tak kesepian atau terasing di tengah samudera
tak kukenal. Setelah waktu yang menyertai bosan akan ku lepas
mereka menuju kehidupan lanjutan. Atau juga kurelakan pergi lalu
bersama perahuku mengejawantah ke dalam jiwa-jiwa baru yang tak kukenal
di raga mana tempatnya bernaung.

Perahuku berbekal keterasingan, keadaan yang tak jua kupahamkan.
Semu yang tak terelakkan. Karya yang kucipta menjadi tak kukenal,
seolah bukan buah tanganku sebagai asal.
Apakah karya pujangga atau pecundang dengan rayuan, atau buruh
yang terdera kerja tak tahu ujung karyanya mengada.
Mungkin..suatu saat perahu ini akan karam, atau terhempas digulung
gelombang, karena tak sanggup kendalikan kemudi liar,
yang temukan kebebasan disela-sela badai datang.

Akan kusebut kau kekasih atau teman, sebagai tempat
belajar. (Terserah kau saja, asal kau nyaman dengan satu sebutan.
Dan kita kenal sebutan itu sebagai kesepahaman. Kekasih, teman
atau apa saja yang kau inginkan).
"Perahuku berlayar untukmu, mengarungi samudera tak bertuan,
menuju pulau tempatmu bernaung tetapi tak jua kutemukan. Atau
ku tak sadar telah berubah haluan, tertabrak hiu atau tergores
karang."
Kau mungkin tak bosan, setidaknya malam ini kau lempar
tanda ke langit wartakan kesunyian penantian, dan doa agar
perahuku bertahan meski bekal tersisa ketiadaan.

(Sebagai kekasih atau teman) Akan kujaga setiap bekal yang
kau titipkan pada angin malam. Kutangkup simpan pada karang,
agar bersenandung saat aku kehilangan daya untuk teruskan.
Kukembangkan layar dengan semangat pencapaian, juga kupunguti
rindu telah ku lempar ke buritan, karena ku kira roman picisan.
Tetapi Andai perahuku karam karena badai atau angin topan,
jiwanya akan larut dalam asin garam.
Mewarnai air, memberi makan bagi burung camar.
Jangan kau ratapi, karena perahuku tak pernah dibangun dari kecengengan.
Bentuk adalah milik sang waktu, jiwanya kadang dimiliki camar
atau terumbu karang.

Dan perahuku adalah kata, bahwa kita sepaham dalam jiwa.
Raganya entah bila. Rupa tertera di keliling jiwa;
jangan kau hirau apalagi dihamba,
karena nanti tiada.
----

kinan


dari tiga huruf

kan kupanggil dengan tiga huruf,
awalan dan akhiran yang sama agar seimbang
seperti penantian yang berkawan dengan harapan

hanya ingin kupanggil tiga huruf
sebagai penanda bahwa kita tak sekedar kawan, namun canggung untuk jadi sepasang
lalu melahirkan kesunyian yang kukirimkan sebagai teman

selalu tiga huruf
agar tersadar dari sakit tak terelakkan
lalu memaklumkan, memaafkan dan mengubah menjadi pelukan yang tak pasti datang

huruf itu ialah ikon saat kutumpulkan setiap duri dalam genggaman
agar tak terlalu sakit, lalu cepat kita tuntaskan
karena waktu kita selalu tak panjang

hanya tiga huruf
untuk mewakilkan, keterasingan dari rasaku yang melenakan
gejolak yang mendebarkan, meskipun tanpa sentuhan

Aku bersalah pada keterbatasan dan sungkan
namun mencintai tiga kata dalam rangkaian kembang
beralaskan ilalang berbingkai keraguan akan masa depan

Ingatlah juga penantian akan menyakitkan, tetapi selalu mudah dimaafkan
karena cinta telah berkembang memeluk erat perbedaan
yakni menghargai batasan meski dengan kebencian yang termaklumkan

Untuk ...,

kau juga pemilik tempat tenang
teralienasi oleh keinginan yang kita tahan
tak sanggup terabai,
atau matikan sekalian

Nyatanya kau ini suluh utk temukan ruang bagi cinta tak terdefinisi
jua yang tak elok berjanji
pada sesuatu yang tak dapat ditepati

kita akan sadar bahwa yang kita bagi bukanlah semata terang
namun juga hitam yang akan menyeret dalam gelap malam
dan cinta ini begitu saja datang,
menawarkan gembira sedih secara bersamaan


23 agust 2015, 
Jul 25, 2011

jalani atau berhenti kita relakan peduli



kutitipkan pada ranting-ranting turi
tepat saat setengah tujuh atau selebihnya sedikit
aku sembunyikan dengan hati-hati
mengemasnya dengan rapi, memberi kode sandi
agar hanya aku yang mengerti

tak sempat kuberitahukan bagaimana menafsirkan nanti
karena belakangan amat kusesali karena bisa saja habiskan
waktu hanya untuk bersama menautkan dan menitipkan disana
toh "aku masih bisa berlari mengejar" atau setidaknya
kita bisa mengulur 5 jam sebelum ditelan hari baru

kita sungguh manusia bijak, karena tidak membiarkan
emosi atas nama sesuatu untuk mengalahkan realita
bahwa kebijakan bukanlah kebaikan dari satu sisi,
tetapi bisa saja dari sisi berbeda yang kita pilih
bahwa tak harus berkorban lebih banyak untuk bertaruh pada masa lalu
dan berharap bayangan nanti akan kekal berbingkai kebahagiaan

kita sudah berjanji
setidaknya tak pernah terucapkan,
untuk tidak menafikan konsekuensi dari pilihan
dan membiasakan berbagi sepi pada opsi lain yang tak terambil
lalu berusaha mengerti, bahwa sesuatu tak harus terukur dan terhitung
bersanding karena sesuatu hanya mimpi yang tak teryakini
lalu komitmen akan membuat kita menyakiti

kita sudah mengerti dengan sendiri
menghormati bukanlah tentang ketundukan untuk memaksakan diri
tapi membiarkan orang lain berdiri atau duduk dengan kehormatannya
dan jika perlu kita berkorban, maka berkorbanlah tanpa mempertaruhkannya

sementara,atau selama yang tak pasti kita lupakan saja turi
atau semua yang kutitipkan dan tak sepenuhnya kita mengerti
sebaiknya kita bertopang pada nasib atau takdir
meski mereka seringkali tak akur dan tak kita sukai

kita sudah mengerti
tak pernah berjanji, jalani atau berhenti relakan dengan peduli

*
Dec 5, 2009

I want to tell you that the morning will end...



Sementara akan kuingatkan bahwa kita hanyalah sekumpulan ilalang atau dedaunan. luruh dikulum jingga atau ditelan cakrawala, untuk hilang entah kemana.geram karena hasrat hanya terpendam. terpenjara oleh ruang, atau waktu yang hilang...
....
Sesekali sepi yang dimiliki tak berarti sendiri.dan berteman adalah lengang bersama awan.mengukur interval rumput dan langit dengan beberapa dahan. dan tetap tidak dapat terbang...
Sesekali sunyi berkawan dengan gempita yang panjang.diam pada saat semua menuntut bersuara lantang.dan bukanlah mudah menilai kebijakan dari kemasan.dan tetap kita bukan biarawan...
Sesekali aku hanya ingin tinggal, tak ada sebab atau akibat untuk ditanyakan.atau dicari untuk logika pembenaran, hanya ingin tinggal...
Untuk sesekali merasakan kebebasan, dan bahwa beberapa hal terlepas untuk tak dapat dijelaskan...
---
Note: "Subuh di Tembalang"
Nikon FE
Aug 31, 2009

aku

apa yang kutulis adalah sunyi
yang kutabuh adalah gemuruh
kutangkap dalam imaji adalah kontemplasi
kuajarkan sesuatu karena rapuh
menjadi berbeda seperti guruh
walau tetap bagian hujan
--
08-09
Apr 16, 2009

Fight + Club

"Kulihat orang-orang terkuat dan terpandai. Kulihat semua potensi ini, dan kulihat itu disiakan.
Seluruh generasi menjadi membosankan, berada dibalik meja atau budak berseragam. Iklan dan promosi, membuat kita mengejar kendaraan, pakaian dan apapun yang disebut hobi, juga ironisnya hal itu bermula dari mengerjakan sesuatu yang kita benci agar kita bisa membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Kita adalah anak sejarah, tanpa tujuan atau tempat. Tak ada perang besar, tak ada pencapaian besar. Perang besar adalah peperangan spiritual di diri kita, pencapaian besar adalah suatu ilusi bawah sadar.

Kita diharuskan mempercayai bahwa suatu hari akan jadi rockstar atau jutawan, tapi sebenarnya tidak. Dan kita mengetahui dan memahami fakta itu, lalu kita menjadi sangat marah.

Lalu komoditas yang tersebar menjadi sangat memuakkan karena tak akan cukup memuaskan hasrat, juga lelah pada kenyataan bahwa kita dicengkeram rasa kurang dari karnal yang menggelegak ingin dilampiaskan..."

Ah cuma karnal, bukankah hasrat material sangat menggoda untuk dituntaskan!

*penafsiran dari terjemahan bebas orasi singkat Tyler Durden di film Fight Club, dan Dunia yang Dilipat.
Mar 16, 2009

sebenarnya dan sesungguhnya

Sebenarnya tak mampu kulihat buruknya diriku tanpa matamu
Sebenarnya tak sanggup kudengar sengau suaraku tanpa telingamu
Sebenarnya tak mampu kukecap getirku tanpa lidahmu
Sebenarnya tak sanggup kucium bau busukku tanpa hidungmu
Sebenarnya tak mampu kuraba kasarku tanpa tanganmu
Sebenarnya tak dapat kutuangkan hasratku tanpa keinginanmu

Sesungguhnya tak dapat kubumikan teoriku tanpa analisamu
Sesungguhnya tak dapat kulupakan gagalku tanpa pelipurmu
Sesungguhnya tak sanggup kurasakan dukaku tanpa airmatamu
Sesungguhnya tak sanggup kupertahankan imanku tanpa setiamu
Sesungguhnya tak mampu kurasakan cinta dalam diriku tanpa hatimu

Sesungguhnya aku dilahirkan haram oleh otak kanan, lalu terasing di sudut otak kiri

Sebenarnya kau terlalu agung, untuk tetap bersanding dengan bintang yang menghempaskan diri ke bumi
Feb 25, 2009

Semesta entah ( dialektika )


bukankah dialektika ini yang selalu hadir
mengiyakan juga meniadakan yang lain, sehingga kesatuan baru bermunculan
lalu bagaimana kita mencaci setiap lagu cengeng yang mudah saja
terucap saat kesepian menggelembungkan keraguan
bahwa kita tidak sekeras batu karang
setiap ketidakpastian menemani bersebelahan
dan sanggup mematahkan harapan serta apa yang kita sebut pencapaian

bukankah, setiap kali aku membutuhkan kawan
kuputar Debbie Gibson diam-diam, lalu mengalir dalam haru kebiruan
sampai entah kubedakan maya dan nyata yang kupegang
sebagian itulah yang kusembunyikan di bawah bantal,
bersama puluhan nick carter sisa jaman smp tak lagi terbaca
tapi yang sayang dibuang

Aku selalu hilang di setiap pandangan
atau tatap mata itulah yang membuatku hilang arah
terbenam dalam semesta entah
terdampar dalam padang berkabut yang membuatku gelisah,
sekaligus sumringah
bergantian sampai kurasakan menggigil dalam
kesendirian yang begitu gerah

sungguh aku tak mampu menahan gelombang
kemudian kupilih berada dibalik batu karang terhebat
sehingga aku tetap dapat menertawakan lautan
tanpa terenggut seperti ikan-ikan
Jan 26, 2009

lima lebih dua

lima lebih dua
mengumpulkan kehadiran maya bagi raga yang renta
sementara jiwa begitu muda
tapi putus asa, tiada endapan yang menggerakkan
selain entah apa
jika logika dan rasa pun meminta tinggal bersama

lima lebih dua
rasa dan logika telah berdiam di bawah bantal
kutinggalkan, hanya kubawa raga yang terpaksa
dan menghipnotisnya dengan senandung asa
"bahwa Tuhan akan bersama,
dibalik segala kesulitan adalah hikmah bersemayam"

lima lebih dua
tak ada yang terpikirkan untuk sampai disana
gumamku; lakukan saja !
dan menjalani terbiasa, lalu mati rasa
untuk sebuah harapan dan realita
agar keseimbangan terjaga dengan berdiri ditengahnya

lima lebih dua
aku bersulang untuk kekekalan ketidakpastian
juga semua yang akan menimpa
tapi demi Tuhan, berilah jeda agar aku dapat meminta

untuk lima lebih dua...

*Untuk grup nglaju: pak Ade, pak Prianta, pak Eko, pak Bibit, pak Samsul
dan seluruh teman2 CIO4, tetap semangat(hehe..omong gampang,
susah untuk dilaksanain)!