share and keep the dream alive <$BlogPageTitle$/>
 

 

 

 

 

 

 

     
the_dahanpinus


Saya di sini bukan untuk jejak hujan yang panjang. Tapi ada sebuah bangkai yang terlipat dalam lumpur .
Dan seekor burung bertengger di atasnya.

Saya disini bukan untuk alam yang rongsokan. Tapi ada seekor anjing yang menghirup udara busuk, lalu meraung dan ulat-ulat berbaris di kakinya.

Apakah waktu sebetulnya, apakah duka. Di bangkai itupun masih berkilat arloji yang berdetik sejak tadi : suara itu, suara yang bersentuhan dengan awan dan pagi.

dari "Lanskap" : Goenawan Mohamad est

the_roots

## dan aku masih, tetap dan akan... ## aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati ## ribuan imaji dalam perasaan ## Sebut ini introvert ## bersama mimpi ## dengan kata yang kubutuhkan ## kukumpulkan dedaunan impian ## sebuah catatan tentang ironi ## Perahuku adalah kata Aku belajar tentang sebuah ... ## a beautiful moment is here

  • A R T I K E L
  • P O E M
  • B O O K S
  • M U S I C

  • the_trees

    #July 2005#August 2005#September 2005#October 2005#November 2005#December 2005#January 2006#February 2006#March 2006#April 2006#May 2006#June 2006#July 2006#August 2006#September 2006#October 2006#November 2006#December 2006#January 2007#February 2007#March 2007#April 2007#May 2007#June 2007#September 2007#November 2007#December 2007#January 2008#February 2008#March 2008#April 2008#May 2008#June 2008#July 2008#August 2008#November 2008#December 2008#January 2009#February 2009#March 2009#April 2009#May 2009#July 2009#August 2009#September 2009#October 2009#December 2009#January 2010#March 2010#May 2010#December 2010#February 2011#April 2011#July 2011#March 2012#February 2013#March 2013#March 2014#August 2015#November 2015#December 2015#January 2016



    the_flowers

  • PhotoClass_DA
  • PS_Guide_DA
  • CSS_Guide_DA
  • MyFourThirds
  • Paulpolitis
  • Four_thirdsOrg
  • KathleenPhotography
  • OlympusPhoto
  • Kamera-DigitalCom
  • Adapter-Oly
  • Olympus-source
  • FotograferNet
  • Wrotniak-Oly
  • Photo Net
  • ForumKamera
  • PhotoshopTips
  • EyesOnDesign

  • Music&Drumming #*#
  • Drummerworld
  • Great Drummer
  • Rod-Morgenstein
  • Travis_Barker
  • NickoMcBrain
  • Tune-Drum
  • Klinik Drum
  • Led Zeppelin
  • IronMaiden
  • Lifehouse

  • PremierDrum-addict #*#
  • PremierDrum
  • Premier_Vintage
  • Premier_archive

  • #*#Linux
  • Distrowatch
  • Jualan-Linux
  • Debian-Linux
  • Suse-Linux

  • the_fruits



    the_rain


    [theJam]

       
     

    FB


    the_branches


    www.flickr.com
    This is a Flickr badge showing public photos from dahanpinus. Make your own badge here.

    Submit to IndoFeed

    the_cloud
    the_CIO4

     
    the_misty



    BlogFam Community
       

    Contents

    Jan 13, 2016

    dan aku masih, tetap dan akan...

    dan aku masih, tetap dan akan

    tak bisa kukatakan itu
    meski puluhan kata berdesakdesakkan nyaris terujar
    bisa kutahan selama kumau
    dan akan kucerap tanda yang merujuk darimu

    saat ini aku ialah akibat, yang menunggu
    atau menahan lisan untuk kukuh
    dari hati yang sudah jenuh
    untuk hanya terkubur penuh

    aku mempelajari setiap ketidakhadiran
    merenungi setiap pengabaian
    juga memberi tafsiran pada setiap keraguan
    lalu aku tulis masing-masing dengan catatan kaki
    yang mudah dimengerti
    dengan beberapa warna warni
    sampai membentuk imaji
    akan kenangan waktu disitu
    dan disini kau menemani dalam bayangmu

    tak tergantikan oleh apapun itu
    dan aku akan memilih untuk menunggu

    juga kurayakan sebentuk kehadiran
    dalam kata sederhana meski nirlisan
    melalui selebrasi yang kurahasiakan
    seolah aku tegar
    bahwa inilah cypress yang selalu bertahan
    meski didalam selalu kugumamkan
    aku sanggup menangis karena kerinduan
    yang terus kutahan
    untuk tak terujar

    kegembiraanku membaca tanda senyummu
    meski kadang aku ragu apakah itu milikku
    setidaknya biarlah aku yakini seperti itu
    karena hakikat kebahagiaanku adalah meyakini
    sesuatu khusus untukku

    sungguh aku tahu perasaanmu
    menyimpan nada yang seirama
    karena alunan kita pernah nyata padu
    menahan sekerasnya agar tak lampaui batas itu

    meski gejolak itu meletup disini dan disitu
    dan kau tahu kenapa aku tak pernah mengucapkan
    janji akan kita hentikan semua itu
    meski aku sepenuhnya kenali kapan

    karena aku belum siap;
    melihatku, melihatmu sakit atau gila tak tentu
    akan ada saatnya kita akan menerima jauh
    tanpa sedikit sendu, bahkan dengan tarian
    dan ucapan lantang bahwa aku dan kamu akan tetap disitu
    menjadi pemilik masing-masing celah,
    yang kita singkirkan dari tekanan-tekanan
    yang menuntut kita beranjak dari duduk
    atau terbang meninggalkan bumi

    tak beban lagi kita
    hanya bahagia yang berbeda
    seperti seorang pustakawan dengan buku baru
    atau botanis dengan benih benih
    yang semestinya dirawat tapi akan ikhlas jika mati
    karena prosesnya adalah kenikmatan itu

    lalu kita hanya berbincang
    atau bertemu
    entah kapan lagi selanjutnya seperti
    menikmati proses, tanpa berharap hasil akhir
    sejauh itu bahagia buat ku buat mu

    dan tetap yang kau tahu
    kamulah pemilik celah itu
    tak tergantikan oleh sebentuk apapun
    sampai kapanpun

    aku akan tetap bahagia dengan menunggu
    bahagia dengan senyum sederhanamu
    tanpa tekanan dan janji yang membuat kita
    kabur dari hidup yang terlanjur dipilih
    ---
    dan aku masih... tetap... dan akan...

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Wednesday, January 13, 2016 | 0 comments

    Dec 28, 2015

    aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati

    asal kau tahu saja
    (aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati)

    Yoseph'...

    hatiku sudah tertinggal sejak memandang papirus
    juga bunga-bunga bungur serta biji-biji saga yang berguguran
    atau entah tabubeya yang berkembang kuning terang
    lalu cerita tentang trembesi yang tak pernah berluruhan
    meski kemarau panjang

    atau juga pohon yang kukira randu
    -dengan kapas beterbangan bagai salju-
    lalu aku sembunyikan malu,
    dengan geli karena kebodohanku,
    bersitegang dengan seorang botanis
    dengan keahlian pemeliharaan

    lalu sejak entah kapan,
    imajimu begitu mencengkeram
    tak pernah kuasa menolak ajakan
    dimana kutemui serendipiti yang hentikan waktu,
    dengan bercumbu bersama gurauan

    kita memang bermimpi,
    atau mengendarai mimpi
    tentang kepingan keabadian
    yang mengisi lakuna,
    lahir dari rasa yang nircipta
    seperti banyak kisah romans yang indah,
    namun tragis di akhiran

    dalam nuansa guguran bungur,
    tabubeya,
    kapuk,
    atau dedaunan

    yang kita hayati,
    bahwa masing-masing mempersembahkan kehidupan
    dengan teramat indah,
    dan sukar untuk dilupakan

    Kau tahu,
    kisah kita sepertinya akan berakhir dengan kegetiran
    atau sudah,
    atau mungkin

    seperti Minke dan Annelies
    juga Laila dan Majnun
    atau Gibran dengan May Zaidah

    dan asal kau tahu,
    aku meresapinya
    berdamai dengan hatiku,
    untuk tak menafikannya

    seperti Majnun dan Minke
    yang menghayati sakitnya dengan kegilaan
    - Majnun yang menghirup sekuatnya angin dari arah desa Laila, dengan segenap rasa
    dan sedalamnya dengan satu keyakinan bahwa sebelumnya angin pastilah menyentuh tubuh Laila -

    Juga Minke,
    atau Annelies kalau kau ingin contoh perempuan
    yang mendadak membuat dirinya gila,
    dengan berdiam diri sepanjang samudera
    sampai ke Holland,
    dan menatap kosong kehidupan,
    karena menganggap Minke tidak cukup berjuang
    untuk mendapatkan

    dan tahukah kau,
    mereka adalah perwakilan dari kisah kenyataan
    yang kita anggap dongeng sekarang,
    juga terlalu dramatis untuk senyatanya kehidupan
    entahlah, jika kau anggap;
    kita,
    aku,
    kamu
    apapun yang ideal
    untuk satu hubungan
    yang sedikit kemungkinan terbumikan

    asal jangan kau anggap kita bermusuhan
    karena
    untukku
    atau
    kita
    tidak akan adil
    jika kita sekarang
    memberi kesempatan pada orang 'lain' berteman
    sedangkan kita sendiri,
    mencoba untuk saling mematikan
    - bukankah kita sepasang kekasih
    yang tak elok untuk diucapkan dengan lantang -

    Aku paham,
    jika sesekali atau seringkali mata kita pejamkan
    agar menghindarkan
    imajimu
    dan imajiku
    agar tidak terlalu bergetar

    tapi ingatlah hati,
    tidak akan mungkin kita pejamkan
    untuk melupakan setiap kenangan
    di pepohonan dan bunga yang kita bincangkan
    juga disudut sudut kota tempat kita
    hentikan masa dengan cumbuan

    Marilah kita ukur,
    siapa yang lebih gila duluan,
    atau yang lebih besar dengan penderitaan
    Majnun atau Laila
    Minke atau Annelies

    akan aku katakan,
    aku berdiri disini
    dalam perjalanan sunyi,
    terkurung keterasingan
    maka aku rentan
    pada semua ketidakmapanan,

    aku merenungi ketidaksiapan,
    meratapi setiap tarikan nafas
    dengan ketiadaan
    akan bayangmu yang selalu datang
    meski aku berbincang dengan puluhan orang
    jua memikirkan hal yang tak ada kaitan
    Aku hancur,
    sejak
    maaf
    maaf
    maaf
    maaf
    -mu
    kau ulang

    -hancur-

    karena kau juga tak paham
    akan ceritaku tentang kerapuhan
    saat terbelenggu kesunyian

    dan kau,
    kau dilingkupi oleh banyak kasih sayang
    tempat yang nyaman yang membuatmu sekuat ilalang
    yang setiap saat akan datang siapapun,
    atau apapun yang menarikmu
    saat kau tenggelam dalam ketidakwarasan,
    atau tempatmu bersandar
    saat kau tak kuasa menahan tangisan

    asal kau tahu,
    aku tidak baik-baik saja
    dalam halusinasi berkepanjangan,
    putus asa seperti mayat hidup yang berjalan
    dengan rutinitas sedangkan pikiranku melayang
    ke situs dan candi juga jalan-jalan
    tempat kita mengelabui waktu

    Kau pasti akan menyanggah
    bahwa yang lebih gila adalah dirimu
    meski aku tidak akan percaya,
    dengan alasan bahwa kau dalam lingkungan nyaman
    dengan lingkup kasih sayang yang berlebihan
    seperti yang telah kukatakan

    Namun,
    hari ini aku membaca lagi kisah Laila juga Annelies
    dimana perempuan memiliki cara,
    untuk menghayati dengan sangat dalam
    meski mereka tampak menerima
    keadaan dengan tenang

    seperti laila yang mempertanyakan
    tentang sebentuk kegilaan yang dikumandangkan Majnun
    dengan sebuah kalimat yang berujung pada kematiannya;

    "Engkau bisa menggunakan pelampiasan kerinduan dengan puisi,
    bertingkah gila dan berteriak sesukamu.
    Tetapi aku memendamnya sendirian,
    membiarkan api membakar tubuh dari dalam, bertahun-tahun.
    Jadi,
    masihkah kau pantas dirimu yang paling menderita karena kenyataan?"

    Aku semakin paham;
    karena Annelies juga memendam perasaan itu dengan diam,
    sampai api itu merenggut hidupnya
    sementara Minke melampiaskan,
    kemarahan akan kegilaannya
    dengan menulis dan bertualang.

    Baiklah, akhirnya aku paham
    tak pantas mempertanyakan penderitaanmu
    juga kegilaan yang kuanggap
    tak sepadan dengan yang kurasakan

    dan aku yakinkan,
    meski aku laki-laki,
    rasa ini tidak sekedar
    dan sepintas lalu hasrat hilang
    dia telah menetap,
    memintaku tetap berdiri
    berdamai dengan hati,
    dengan satu keyakinan

    bahwa kita akan menghargai dengan kekaguman
    juga satu pengetahuan
    bahwa tak adil bagi kekasih
    -meski tak elok diucapkan lantang-
    untuk jadi bermusuhan,

    dan ini adalah,
    bagian dari kita sebagai terpelajar
    dengan berdamai juga adil sejak dalam pikiran,
    juga rasa dan tindakan

    ingatlah,
    bahwa aku menghayati rasa menjadi sebuah kerinduan spiritual,
    sesuatu yang tak memerlukan kata untuk mengungkapkan
    lalu akan terdengar lewat kesunyian malam dan derai hujan
    seperti Gibran dan May yang meresapi tanpa tatapan
    ----
    Desember 28, 2015

    Berharap Desember cepat berlalu
    Bungur itu, Sakura...

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Monday, December 28, 2015 | 0 comments

    Dec 22, 2015

    ribuan imaji dalam perasaan



    kau perahu kataku,
    tempat kususun ribuan imaji bersama kunang-kunang
    juga ingatkah kau tentang;
    tiga kata yang merepresentasikan batasan,
    juga murninya perasaan

    olehnya aku belajar tentang cinta yang tak sekedar,
    berbeda
    dengan awalan menghujam,
    lalu tak sanggup untuk kulepaskan

    setidaknya tak siap
    namun pintamu untuk diam dan istirahat,
    sampai entah kapan
    memaksaku untuk relakan,
    sepanjang waktu yang kau inginkan

    hanya ingatlah,
    aku akan menanti
    sampai kapanpun kau inginkan
    meski aku tersudut sendirian
    menahan air mata
    juga kejang kecanduan

    dan aku akan tetap sama
    dengan satu perasaan
    bahwa rasa ini melibatkan hati,
    dan tak pernah terelakkan
    tak semudah,
    menyingkirkan imaji dengan memejamkan

    ---
    Taipei, 22 Desember 2015

    Labels:

    posted by Asdani Kindarto at Tuesday, December 22, 2015 | 0 comments

    Dec 14, 2015

    Sebut ini introvert

    Sebut ini introvert


    Bukan melarikan diri atau melampiaskan kesal
    Karena seekor ikan kecil di arus deras tak pantas untuk geram,
    pun akan diam pada palung tenang
    Apalah artinya ada jika tidak mengada,
    menjadi kebanyakan kemudian terlupakan
    Satu tepukan tangan di kerumunan tak akan menambah keceriaan

    Aku diam, dan diam adalah sebuah pilihan
    Diam dalam teman yang berangsur jadi posesif memuakkan
    Pada setiap penilai dgn entah sudut pandang,
    membuat standar umum dari aku-kamu kepentingan

    Aku adalah kepingan yang teralienasi dan mengalienasikan diri dari benderang,
    gegap gempita yang berkelanjutan
    Aku hanya butuh diam, seperti terang yang membutuhkan padam
    Tak peduli waktu seberapa panjang,
     tubuhku akan paham kapan butuh sinar

    Aku hanya ingin lebih baik kemudian,
    dalam gelap yang membuat berpikir lebih tajam
    Aku hanya tak ingin menyakitkan dengan skeptisme
     yang mencemooh setiap kesinisan senyuman dan canda yang menjemukan.
    ---
    Semarang, 08/02 2015

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Monday, December 14, 2015 | 0 comments

    Dec 9, 2015

    bersama mimpi

    bersama mimpi



    aku bersama mimpi dengan kau bersanding di bahu mengalirkan sepi
    debur air di bawah jembatan,dengan burung-burung sriti yang membawa setiap kerisauan hati
    lalu dibawanya kita terbang atau terhenti ikuti perahu-perahu kertas
    yang sengaja kita adu untuk tujuan apa kita tak pernah mengerti
    tapi kita sepakat bahwa kita isi hari dengan harapan dan mimpi
    seolah perahu itu adalah mahligai pencapaian yang didamba terpenuhi

    air, itulah harapan dan penantian kita selama ini
    tapi kita hanya bisa bermimpi, dan yang kita hadapi
    adalah kemarau yang semakin liar, panas keringkan tenggorokan ini
    saat arloji mulai beranjak dari panasnya jelang sore hari
    kita hanya bisa bermimpi, dan berharap janji itu tertepati
    mesti undur dari hari

    aku bersama mimpi,
    dan kita tak akan mati meski lapar atau dahaga sehari
    ingat saja kejayaan air disaat kita ceburkan diri
    di dalam sungai yang akan kunamai sebagai entah kali,
    percik-percik yang bergejolak di bawah sayap sepasang merpati,
    yang kehausan diterik hari
    kau harap kita sesetia pasangan merpati,
    dimana mereka tetap kembali hanya pada pasangan hati,
    walau disekitarnya banyak pilihan yang siap menyongsongnya untuk berganti

    bersama air kita ketahui,
    keindahan juga misteri refleksi;
    jembatan gantung dan luruhan bunga bungur lalu daun akasia,
    seolah menyatu dalam lukisan salvador dali
    hidup memang getir,
    mimpi dan pasti yang silih berganti
    airpun selalu kita persalahkan atas sesuatu yang tak dikehendaki
    dan di lain hari kita bersyukur karena mendapati
    suatu kesalahan yang terasa elok hingga kini

    aku masih bersama mimpi dengan pasti di bahu bersandar sepi
    dalam perjalanan bersamamu mencari diri
    mimpi dan pasti nanti juga silih berganti

    Labels:

    posted by Asdani Kindarto at Wednesday, December 09, 2015 | 0 comments

    Dec 7, 2015

    dengan kata yang kubutuhkan

    'dengan kata yang kubutuhkan, 
    untuk hariku agar berkelanjutan'



    di sekelilingku puluhan pohon peepul dan pinus
    dengan tupai yang meloncat kian kemari
    memakan bijian lalu meninggalkan kotoran
    mengenai segala yang dibawahnya
    lalu aku mengutuk mereka semua,
    karena meninggalkan bau yang memuakkan
    dan aku hanya tidak mau mengatakannya...
    lebih memilih untuk memandang,
    karena apalah arti seorang pengembara
    yang bertamu hanya sementara

    di balik pujian dengan kalimat mengagungkan
    sampai pada titik terpaku,
    karena sungguh membuatku mual
    karena sebenarnya hinaan
    aku hanya memilih diam lalu tersenyum,
    dan tidak mau mengatakan kegeraman,
    karena siapalah aku hari ini,
    dengan impian ideal
    yang sedang diperjuangkan

    di setiap tempat di satu waktu,
    yang sedekat hatikupun
    selalu meminta diabaikan,
    meski sering kubingungkan pada sisi apa lemah
    dan burukku tak termaafkan,
    sehingga tepat untuk menutup jendela pandang

    dan aku begitu tersiksa,
    gelisah dari malam dan seharian
    membuat semua terang, seolah kelam dan menyesakkan
    dan aku tetap paham,
    karena apalah arti sebuah kekecewaan dan geram
    bagi pencinta yang tak sanggup menjadikannya Tuan,
    lalu akan ada pemakluman,
    meski seperti terbuang
    namun setidaknya tak akan mudah terlupakan

    dan di setiap padang ilalang yang benderang
    tetap saja kurasakan hutan lembab kelam
    karena kupikir aku selalu bisa tafsirkan,
    setiap misteri dibalik tumbuhan,
    nyatanya berujung pada meragukan
    meski ingin aku minta penjelasan,
    agar setidaknya
    penafsiran bisa sedikit sepadan,

    namun aku tidak mampu mengatakan
    karena seorang pengembara
    yang dengan entah kepastian,
    tak pantas meminta sebuah kejelasan

    dan aku tetap diam,
    berusaha menyeimbangkan timbangan
    antara bagian kecil yang diberikan
    dengan harapan yang sering bergelombang
    menelan dan menghempaskan

    namun tetap saja akan selalu kumaklumkan,
    untuk tidak meminta berlebihan

    aku sadar,
    di sisi abu-abu
    antara putih dan hitam
    tak perlu ratapi keadaan

    ya,
    meski jua aku tak kuasa bertahan,
    pada rasa rindu yang dalam
    juga gelisah karena terlalu samar
    tanpa tercerapkan

    aku selalu harapkan
    tak berhak memaksakan
    pada satu kehendak,
    agar jendela kaca yang tampak kecil sekarang
    jangan kau tutup dengan tirai hitam,
    karena aku seorang yang rapuh dan sering padam
    dengan melihat bayangmu saja,
    aku akan tenang

    tapi aku tetap tak mampu memaksakan;
    keluhan, juga meminta penjelasan
    karena apapun yang kau lakukan,
    akan tetap memaksa diriku paham
    dan memaafkan

    aku sudah terbiasa sakit sendirian,
    tapi akan nyaman kemudian
    karena suatu waktu
    kau akan datang ;
    'dengan kata yang kubutuhkan,
    untuk hariku agar berkelanjutan'

    jua sebentuk kehadiran
    yang memberiku tentram
    bahwa sakit itu sebentar saja akan hilang meski datang,
    seperti jarak yang kutawarkan,
    disamping waktu yang senantiasa memungkinkan
    untuk perpisahan juga perjumpaan
    ----
    Taipei, 11/21/2015

    Labels:

    posted by Asdani Kindarto at Monday, December 07, 2015 | 0 comments

    Nov 10, 2015

    kukumpulkan dedaunan impian


    Aku hanya mengumpulkan dedaunan kering yang berjatuhan,
    kupikir mereka terlalu indah jika terbiar dimakan cacing tanah
    atau pudar dalam tanah basah
    iya terlalu indah,
    karena dedaunan maple adalah simbol dari impian,
    setidaknya bagiku yang tinggal pada belahan tropis yang terang

    Untukku, pepohonan dan hutan adalah semacam jalan keluar
    saat aku jengah atau gusar lalu rindu akan dekapan
    setidaknya aku tahu,
    bahwa kau juga memiliki kegemaran yang seragam
    jadi aku tidaklah sepi sendirian,
    setidaknya itu yang kuyakinkan

    Lalu hutan yang dipenuhi oleh cypress dan maple ini,
    hanya sebuah tanda
    bahwa kuanalogikan satu belahan bumi disana,
    untuk kesini seolah datar

    huh,
    tak serumit itu sebenarnya
    aku hanya menempelkan imajimu dalam setiap hutan dan pepohonan yang kulalui
    lalu tanpa sadar,
    bayangan itu mengajakku memunguti dedaunan impian yang berguguran,
    kita kumpulkan satu persatu,
    seperti kesiaan yang kita punguti untuk dipandangi dalam-dalam

    Tanpa kata-kata,
    karena seringkali hanya berujung debat panjang
    tapi dengan tatapan,
    hati kita yang berbicara
    lalu dengan itu,
    kita mampu rangkum dua sayap kiri kanan untuk terbang
    singgah di dahan-dahan pohon maple,
    melagukan sendu namun dengan distorsi dan penuh hentakan,
    sebagai bentuk geram pada nasib yang tak elok untuk diperdebatkan,
    dan kita tertawakan setelahnya

    Masih, kupunguti dedaunan maple yang berguguran,
    disampingmu yang hadir setiap mata kupejam
    pada setiap daun kupilih yang terbaik,
    sehingga dia lebih tahan untuk tiga bulan mendatang
    iya,
    hanya waktu yang sanggup aku janjikan sekarang

    juga waktu yang saat ini mengusirku kembali atau pulang,
    tak mampu juga aku kirimkan dedaunan maple yang telah ditangan,
    hanya mampu kusampaikan pesan bahwa ini bukanlah sekedar daun kering
    tetapi ialah sebuah penanda tentang dua perbedaan,
    dengan impian yang seragam
    maafkan jika terdengar seperti bualan

    Aku memang tak pandai berkata-kata,
    hanya  gadungan yang tak mampu mempesonakan setiap gadis dengan rayuan
    juga, terlalu angkuh untuk sampaikan kejujuran,
    dengan memujimu terang
    Ya,
    aku mungkin hanya berdalih,
    bahwa diksi telah kuhabiskan dalam naskah publikasi yang membosankan
    meski telah kau ajarkan dengan sepenuh hati,
    dibalik biji-biji saga yang kita kumpulkan,

    tetap saja ku bebal,
    tak jua kusampaikan gagasan dengan kelembutan
    namun tetap saja dengan ego yang membakar,

    Namun,
    dengan sekerasnya kucoba resapkan sekarang
    setidaknya kupahami pengalaman yang kau persembahkan,
    terlalu dalam dari sekedar kesan
    dan bukan suatu kebiasaan,
    meski bersanding bersama kelam
    senada dengan langit di hutan maple dan cypress
    yang memaksaku harus pulang,
    ya seperti waktu yang selalu menjadi batasan

    Kadang,
    aku terlalu takut untuk kembali pada hutan dan pepohonan
    tapi ingatan akan biji saga dan guguran bungur selalu bergetar berbayang
    pada apa saja tumbuhan,
    sehingga tetap saja aku kembali datang
    rindu pada pepohonan yang amat dalam

    Aku tahu,
    sekarang kau ingin sendiri yang tidak berteman
    adalah hampa yang menyiksa bagiku,

    kau adalah perempuan bijak tenang,
    karena dalam kekalutanku,
    kau dapat memainkan daun dan bunga yang berguguran,
    lalu kau genggam dan melekatkannya tepat dihatimu,

    Kucoba selalu tafsirkan bahwa kau sedang menyampaikan suatu tanda
    bahwa aku telah menetap dalam,
    semoga bukan kesalahan tafsir seorang pecundang

    Dan,
    aku masih saja mengumpulkan dedaunan maple sampai musim gugur hilang
    sebagai suatu persembahan untukmu dan satu pengingat untukku,
    bahwa kau terlampau dalam,
    tak hanya sekedar sesuatu yang kau ajarkan;
    ego agar lebih tenang, juga kesendirian dengan kepedulian

    dan jika musim dingin datang,
    aku akan sampaikan bahwa rinduku akan kupendam
    hanya untukmu sampai tiga bulan atau tahun-tahun mendatang
    sampai waktu kita datang,
    pun telah kutandai dengan
    bisikan pada pohon dan dedaunan,
    bahwa aku sanggup membuatmu seorang.

    -----

    Alishan - Taipei 6 -9 Nov 2015

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Tuesday, November 10, 2015 | 0 comments

    sebuah catatan tentang ironi


    diantara ilalang dan padang tanaman jagung
    cerita yang kita bagi adalah tentang kebohongan
    tadinya kita sepakati berdua,
    kemudian kita ajak teman untuk jadi berlima,
    berenam dan lalu menjadi sekawanan gagak dahaga
    sekarang kebohongan itu adalah dogma
    bahwa begitulah kita, dan beginilah cara mempertahankan hidup mulia
    hanya masalah jumlah kebohongan dapat bergema
    menjadi kebenaran bersama, iya?
    ya, sejarah dipercaya karena dituturkan oleh siapa yang berkuasa
    lalu dicatat tebal-tebal ke dalam buku dan nota
    tetapi, kita tetap tidak bisa
    berbohong kepada padang jagung
    dan diantara ilalang gerah, saat kita bersenggama
    juga demi gagak yang mematuk nurani
    sumir bercampur gelora
    ingatkan,
    agar kita segera pagari rapat dosa asal kita,
    kelilingi dengan kawat berduri,
    aliri dengan listrik tegangan tinggi
    atau sekalian saja bangun sutet,
    hingga tak ada yang berani tinggal didalamnya
    lalu kita sewa; penulis hebat, rohaniwan, penegak hukum
    juga politikus untuk memaklumkan perbuatan dari sisi yang luar biasa,
    sehingga kita menjadi sepasang legenda
    bahwa dosa ternyata bisa saja mulia
    ---
    10 Nopember 2009
    perjalanan dari Ketep ke Kopeng Salatiga
    cuma pake kamera pocket digital.

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Tuesday, November 10, 2015 | 0 comments

    ‹Older







     

     
       
     
    © 2007 dahanpinus.