share and keep the dream alive <$BlogPageTitle$/>
 

 

 

 

 

 

 

     
the_dahanpinus


Saya di sini bukan untuk jejak hujan yang panjang. Tapi ada sebuah bangkai yang terlipat dalam lumpur .
Dan seekor burung bertengger di atasnya.

Saya disini bukan untuk alam yang rongsokan. Tapi ada seekor anjing yang menghirup udara busuk, lalu meraung dan ulat-ulat berbaris di kakinya.

Apakah waktu sebetulnya, apakah duka. Di bangkai itupun masih berkilat arloji yang berdetik sejak tadi : suara itu, suara yang bersentuhan dengan awan dan pagi.

dari "Lanskap" : Goenawan Mohamad est

the_roots

## Kabar dari laut ## "Stat astra pristina nomine; nomina nuda tenemus."... ## Bila ku gusar pada kepastian ## kau berarti gerimis ## Puisi dari Seorang Sahabat sekaligus Guru ## sebuah alienasi yang dilepaskan ## dan aku masih, tetap dan akan... ## aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati ## ribuan imaji dalam perasaan ## Sebut ini introvert

  • A R T I K E L
  • P O E M
  • B O O K S
  • M U S I C

  • the_trees

    #July 2005#August 2005#September 2005#October 2005#November 2005#December 2005#January 2006#February 2006#March 2006#April 2006#May 2006#June 2006#July 2006#August 2006#September 2006#October 2006#November 2006#December 2006#January 2007#February 2007#March 2007#April 2007#May 2007#June 2007#September 2007#November 2007#December 2007#January 2008#February 2008#March 2008#April 2008#May 2008#June 2008#July 2008#August 2008#November 2008#December 2008#January 2009#February 2009#March 2009#April 2009#May 2009#July 2009#August 2009#September 2009#October 2009#December 2009#January 2010#March 2010#May 2010#December 2010#February 2011#April 2011#July 2011#March 2012#February 2013#March 2013#March 2014#August 2015#November 2015#December 2015#January 2016#March 2016#April 2016#July 2016#August 2016



    the_flowers

  • PhotoClass_DA
  • PS_Guide_DA
  • CSS_Guide_DA
  • MyFourThirds
  • Paulpolitis
  • Four_thirdsOrg
  • KathleenPhotography
  • OlympusPhoto
  • Kamera-DigitalCom
  • Adapter-Oly
  • Olympus-source
  • FotograferNet
  • Wrotniak-Oly
  • Photo Net
  • ForumKamera
  • PhotoshopTips
  • EyesOnDesign

  • Music&Drumming #*#
  • Drummerworld
  • Great Drummer
  • Rod-Morgenstein
  • Travis_Barker
  • NickoMcBrain
  • Tune-Drum
  • Klinik Drum
  • Led Zeppelin
  • IronMaiden
  • Lifehouse

  • PremierDrum-addict #*#
  • PremierDrum
  • Premier_Vintage
  • Premier_archive

  • #*#Linux
  • Distrowatch
  • Jualan-Linux
  • Debian-Linux
  • Suse-Linux

  • the_fruits



    the_rain


    [theJam]

       
     

    FB


    the_branches


    www.flickr.com
    This is a Flickr badge showing public photos from dahanpinus. Make your own badge here.

    Submit to IndoFeed

    the_cloud
    the_CIO4

     
    the_misty



    BlogFam Community
       

    Contents

    Aug 26, 2016

    Kabar dari laut



    Aku memang benar tolol ketika itu,
    mau pula membikin hubungan dengan kau;
    Lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,
    berujuk kembali dengan tujuan biru.

    Ditubuhku ada luka sekarang,
    bertambah lebar juga, mengeluar darah,
    di bekas dulu kau cium nafsu dan garang;
    Lagi akupun sangat lemah serta menyerah.

    Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi,
    Pembatasan cuma tambah menyatukan kenang,
    Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

    Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,
    Atau diantara mereka juga terdampar,
    Burung mati pagi hari disisi sangkar ?
    ----
    #Chairil Anwar - 1946

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Friday, August 26, 2016 | 0 comments

    Jul 10, 2016

    "Stat astra pristina nomine; nomina nuda tenemus."..

    aku hanya mengerti bintang bila terang atau berkelipan
    padahal mereka fana, atau seringkali terbenam oleh imaji awan
    aku hanya memahami sinar bila dilimpahi olehnya
    padahal mereka hanya berarti apabila kelam menenggelamkan
    aku hanya menginginkan kau ada diam bersama
    padahal kau sering ternafikan dan terbelenggu bosan menanti ketidakpastian
    sesungguhnya...

    aku sungguh memiliki saat ketiadaan, begitu lekat mendera.
    sesungguhnya, 

    dan setelahnya atau nanti dikemudian 
    saat aku akan mengenali. kau sebagai bintang atau nama 

    apapun yang tidak kupedulikan. 

    asal aku cukup memahami bahwa kesedihan 
    adalah kebahagiaan dengan perbedaan pelabelan

    ---
    Reply komen, 27 Nov 2009

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Sunday, July 10, 2016 | 0 comments

    Apr 19, 2016

    Bila ku gusar pada kepastian


    Bila ku gusar,
    sekian kaki kulangkahkan ke depan juga arah kebalikan
    sambil bergumam rapalan yang entah dapat menentramkan
    dan terngiang begitu saja kalimat yang menurutku benar
    ternyata salah atau mungkin terlalu lugas ditafsirkan
    sepertinya aku berusaha jujur sampaikan,
    bahwa terik membuatku geram,
    menarik habis energi sampai hampir padam

    Juga disisi lain kuceritakan keraguan akan sebuah oase
    yang dekat dengan entah pohon rindang,
    juga menggoda dengan keteduhan
    tapi itu membuatmu dan kita saling geram,
    meski tetap kuharap oasemu
    dengan pohon ara yang tak kunjung ditemukan

    Lalu, kau yang minta aku bersabar
        (dengan kemarahan atau kecemburuan ?)
    sebuah kesabaran yang sejujurnya masih kuperjuangkan,
    meski kuakui tergoda melintas dipinggiran oase terdekat,
    sekedar memeriksa sebentuk nyaman yang ditawarkan

    Aku hanya laki-laki dengan banyak kekurangan,
    dan kelebihan pun tidak mampu menjadikanku begawan
    Sayangnya,
    telah pun kau hakimi seolah masuk dalam kenyamanan yang tak legal
    Karena aku sampaikan kejujuran ?
    Sebenarnya, yakinlah bukan itu yang kurindukan,
    dan cobalah lagi ceritaku kau camkan,
    lalu cobalah sampaikan saja suatu kepastian,
    bahwa oasemu dengan ara disana merindukan pengembara yang bersabar,

    Setidaknya sampaikan melalui angin untuk mengibas rambut kelam
    pada setiap saat aku kehausan dan mulai gusar,
    namun,
    darimu kudapatkan badai berputar,
    yang semakin mendorongku di tepian oase dengan entah pohon rindang

    Dan aku masih bertahan,
    sepertinya akan tetap bertahan,
    dengan beberapa bentuk ingatan.
    yang menantimu datang,
    melalui hembusan yang menyejukkan mengibas rambut kelam,
    dan membisikkan bahwa buah kesabaran
    telah menunggu dari ara di depan,

    Dan aku masih menanti, hembusan angin yang gantikan

    Labels: ,

    posted by dahanpinus at Tuesday, April 19, 2016 | 1 comments

    Mar 13, 2016

    kau berarti gerimis


    kau berarti gerimis
    dari langit kelam terwujud
    butir-butir harapan jadi kenyataan
    dalam alunan yang membawa pilu

    mengobati luka pengurai noda
    atau sekedar memuaskan hasrat bunga-bunga
    tak terungkapkan betapa kudamba alunan rintik
    sesederhana kelu

    atau kadang seperti bait-bait serenada
    yang tercipta dari tangisan
    dan kilauan bulir-bulir kesedihan
    karena sadar akan terpisah kembali

    kau berarti gerimis
    terlahir dari kesedihan yang mendewasakan
    kesabaran untuk menanti
    kembali dan pergi lagi

    membuat riuh dengan hening
    mengisi sepi dengan sepi yang berarti
    atau meninggalkan genangan refleksi diri
    bagi langkah yang terayun nanti

    demi kedukaan tersusun merdu
    jangan kau bawa semua gerimismu
    karena akan tetap ada di sudut lagu
    karena kau...
    berarti gerimis
    ---
    Semarang

    Labels: ,

    posted by dahanpinus at Sunday, March 13, 2016 | 2 comments

    Mar 11, 2016

    Puisi dari Seorang Sahabat sekaligus Guru

    Sobron Aidit :

    K E B U N  B E L A K A N G  dan  B A N D U N G

    Pagi-pagi terang ayam
    kulihat satu-satu kebun belakang
    masih cukup segar
    beberapa kuntum dan berjenis mawar
    tidak ada angin - diam seperti lukisan
    warna-warni puspita rona
    merah hati - merah muda - putih dan kuning
    tulip dan kana
    masih tercium aromanya ke sekeliling.

    Sedang mengapakah dia sekarang ini
    tak jauh dari Tangkubanperahu
    semoga berjalan lancar
    wisuda umum dan sumpah dokter
    ( jangan lupa akan rakyat miskin )
    betapa lamanya sampai kami bertemu di udara
    orang yang sedang begini
    menunggu 20 jam lagi!

    Bandung - kota yang dulu sejuk
    masih tetap terasa nyaman dan jinak
    aku penduduk Paris merasakan juga
    Parisnya pulau Jawa
    kaulah salah seorang isinya
    yang aku tak mampu bisa lupa
    yang membuat aku lupa usia
    di mana harapan-harapan selalu menunggu
    begitu bunga api
    dengan letikan kecil akan menyala besar,-

    ----------------------------------------------------------


    Holland,-  3 sept 05,- oleh Sobron Aidit
    (Miss you mas, ingat beberapa kali kita pernah ngobrol tentang yang sedikit berat2 tentang ideologi, RIP)

    Labels: ,

    posted by dahanpinus at Friday, March 11, 2016 | 0 comments

    Mar 3, 2016

    sebuah alienasi yang dilepaskan


    Sedang kusisipkan guguran daun pada buku usang
    yang tersimpan
    Sebelum kau paksa kembali untuk buka
    pada ingatan yang sedianya ingin hilang

    Baiklah, kau selalu bilang tentang ideal
    jua terbiasa untuk membuka tutup wadah ingatan
    seperti mengambil kelereng dan kau mainkan
    sesukamu
    tak sadar jika aku juga memiliki sebagian

    Mungkin, kau sadari tapi tak pernah pedulikan kegagapan
    yang kucoba tenang sekeras karang
    dan, aku sadar tak mungkin memberi terang pada langit kelam
    pun menyalahkan hujan karena selalu membuat gusar

    dan, aku masih mengagumi pada titik tenggang
    saat memaki jalanan,
    lalu kusalahkan diriku karena terlalu absurd
    menaklukkan godaan agar tidak menghukummu
    dalam nafas yang berkejaran
    seperti yang biasa kita lakukan

    apakah itu mudah untuk dilupakan ?
    mereka akan serta merta datang,
    seiring ;
    hujan,
    guguran daun,
    deretan hutan pinus
    dan kelopak sakura berkembang

    menerima setiap tanda
    sepantasnya membuatku
    merasakan sebuah sepi yang kurindukan
    karena banyak ramai pun tetap tak juga kupaham
    setidaknya dalam sepi imajimu tak buram
    semakin terang tapi sungguh menyakitkan

    Seiring dengan naik turun perasaan
    dan permintaan agar mengikuti etika,
    yang memang tidak untuk kita perdebatkan
    itu kicauanmu yang selalu aku abaikan

    dan aku belajar untuk enggan berjanji pada apa yang tidak bisa kulakukan

    aku hanya belajar menjaga keseimbangan,
    menekan hasrat yang dulu kita bagikan
    menjadi gersang,
    lalu dingin
    sebelum musim semi datang
    dan berkembang sekerasnya untuk beberapa minggu keindahan
    menghilang kembali sampai musim mendatang

    jika tentang rindu yang ditanyakan
    mudah saja nanti akan ditemukan
    pada sekawanan gagak lapar
    yang menanti langit dan kabut kelam
    di hutan pinus tempat mereka tinggal

    sisi gelap yang selalu terkenang dengan ketakutan
    milikmu,
    tempat dimana kegilaan yang sejatinya membuat terbebaskan
    makhluk liar dari alienasi norma menjemukan

    dan sungguh cinta dan hasrat sangat tipis berbatasan

    ---
    Semarang, Januari Februari 2016

    Labels: ,

    posted by dahanpinus at Thursday, March 03, 2016 | 1 comments

    Jan 13, 2016

    dan aku masih, tetap dan akan...

    dan aku masih, tetap dan akan

    tak bisa kukatakan itu
    meski puluhan kata berdesakdesakkan nyaris terujar
    bisa kutahan selama kumau
    dan akan kucerap tanda yang merujuk darimu

    saat ini aku ialah akibat, yang menunggu
    atau menahan lisan untuk kukuh
    dari hati yang sudah jenuh
    untuk hanya terkubur penuh

    aku mempelajari setiap ketidakhadiran
    merenungi setiap pengabaian
    juga memberi tafsiran pada setiap keraguan
    lalu aku tulis masing-masing dengan catatan kaki
    yang mudah dimengerti
    dengan beberapa warna warni
    sampai membentuk imaji
    akan kenangan waktu disitu
    dan disini kau menemani dalam bayangmu

    tak tergantikan oleh apapun itu
    dan aku akan memilih untuk menunggu

    juga kurayakan sebentuk kehadiran
    dalam kata sederhana meski nirlisan
    melalui selebrasi yang kurahasiakan
    seolah aku tegar
    bahwa inilah cypress yang selalu bertahan
    meski didalam selalu kugumamkan
    aku sanggup menangis karena kerinduan
    yang terus kutahan
    untuk tak terujar

    kegembiraanku membaca tanda senyummu
    meski kadang aku ragu apakah itu milikku
    setidaknya biarlah aku yakini seperti itu
    karena hakikat kebahagiaanku adalah meyakini
    sesuatu khusus untukku

    sungguh aku tahu perasaanmu
    menyimpan nada yang seirama
    karena alunan kita pernah nyata padu
    menahan sekerasnya agar tak lampaui batas itu

    meski gejolak itu meletup disini dan disitu
    dan kau tahu kenapa aku tak pernah mengucapkan
    janji akan kita hentikan semua itu
    meski aku sepenuhnya kenali kapan

    karena aku belum siap;
    melihatku, melihatmu sakit atau gila tak tentu
    akan ada saatnya kita akan menerima jauh
    tanpa sedikit sendu, bahkan dengan tarian
    dan ucapan lantang bahwa aku dan kamu akan tetap disitu
    menjadi pemilik masing-masing celah,
    yang kita singkirkan dari tekanan-tekanan
    yang menuntut kita beranjak dari duduk
    atau terbang meninggalkan bumi

    tak beban lagi kita
    hanya bahagia yang berbeda
    seperti seorang pustakawan dengan buku baru
    atau botanis dengan benih benih
    yang semestinya dirawat tapi akan ikhlas jika mati
    karena prosesnya adalah kenikmatan itu

    lalu kita hanya berbincang
    atau bertemu
    entah kapan lagi selanjutnya seperti
    menikmati proses, tanpa berharap hasil akhir
    sejauh itu bahagia buat ku buat mu

    dan tetap yang kau tahu
    kamulah pemilik celah itu
    tak tergantikan oleh sebentuk apapun
    sampai kapanpun

    aku akan tetap bahagia dengan menunggu
    bahagia dengan senyum sederhanamu
    tanpa tekanan dan janji yang membuat kita
    kabur dari hidup yang terlanjur dipilih
    ---
    dan aku masih... tetap... dan akan...

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Wednesday, January 13, 2016 | 0 comments

    Dec 28, 2015

    aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati

    asal kau tahu saja
    (aku mencoba paham, dan berdamai dengan hati)

    Yoseph'...

    hatiku sudah tertinggal sejak memandang papirus
    juga bunga-bunga bungur serta biji-biji saga yang berguguran
    atau entah tabubeya yang berkembang kuning terang
    lalu cerita tentang trembesi yang tak pernah berluruhan
    meski kemarau panjang

    atau juga pohon yang kukira randu
    -dengan kapas beterbangan bagai salju-
    lalu aku sembunyikan malu,
    dengan geli karena kebodohanku,
    bersitegang dengan seorang botanis
    dengan keahlian pemeliharaan

    lalu sejak entah kapan,
    imajimu begitu mencengkeram
    tak pernah kuasa menolak ajakan
    dimana kutemui serendipiti yang hentikan waktu,
    dengan bercumbu bersama gurauan

    kita memang bermimpi,
    atau mengendarai mimpi
    tentang kepingan keabadian
    yang mengisi lakuna,
    lahir dari rasa yang nircipta
    seperti banyak kisah romans yang indah,
    namun tragis di akhiran

    dalam nuansa guguran bungur,
    tabubeya,
    kapuk,
    atau dedaunan

    yang kita hayati,
    bahwa masing-masing mempersembahkan kehidupan
    dengan teramat indah,
    dan sukar untuk dilupakan

    Kau tahu,
    kisah kita sepertinya akan berakhir dengan kegetiran
    atau sudah,
    atau mungkin

    seperti Minke dan Annelies
    juga Laila dan Majnun
    atau Gibran dengan May Zaidah

    dan asal kau tahu,
    aku meresapinya
    berdamai dengan hatiku,
    untuk tak menafikannya

    seperti Majnun dan Minke
    yang menghayati sakitnya dengan kegilaan
    - Majnun yang menghirup sekuatnya angin dari arah desa Laila, dengan segenap rasa
    dan sedalamnya dengan satu keyakinan bahwa sebelumnya angin pastilah menyentuh tubuh Laila -

    Juga Minke,
    atau Annelies kalau kau ingin contoh perempuan
    yang mendadak membuat dirinya gila,
    dengan berdiam diri sepanjang samudera
    sampai ke Holland,
    dan menatap kosong kehidupan,
    karena menganggap Minke tidak cukup berjuang
    untuk mendapatkan

    dan tahukah kau,
    mereka adalah perwakilan dari kisah kenyataan
    yang kita anggap dongeng sekarang,
    juga terlalu dramatis untuk senyatanya kehidupan
    entahlah, jika kau anggap;
    kita,
    aku,
    kamu
    apapun yang ideal
    untuk satu hubungan
    yang sedikit kemungkinan terbumikan

    asal jangan kau anggap kita bermusuhan
    karena
    untukku
    atau
    kita
    tidak akan adil
    jika kita sekarang
    memberi kesempatan pada orang 'lain' berteman
    sedangkan kita sendiri,
    mencoba untuk saling mematikan
    - bukankah kita sepasang kekasih
    yang tak elok untuk diucapkan dengan lantang -

    Aku paham,
    jika sesekali atau seringkali mata kita pejamkan
    agar menghindarkan
    imajimu
    dan imajiku
    agar tidak terlalu bergetar

    tapi ingatlah hati,
    tidak akan mungkin kita pejamkan
    untuk melupakan setiap kenangan
    di pepohonan dan bunga yang kita bincangkan
    juga disudut sudut kota tempat kita
    hentikan masa dengan cumbuan

    Marilah kita ukur,
    siapa yang lebih gila duluan,
    atau yang lebih besar dengan penderitaan
    Majnun atau Laila
    Minke atau Annelies

    akan aku katakan,
    aku berdiri disini
    dalam perjalanan sunyi,
    terkurung keterasingan
    maka aku rentan
    pada semua ketidakmapanan,

    aku merenungi ketidaksiapan,
    meratapi setiap tarikan nafas
    dengan ketiadaan
    akan bayangmu yang selalu datang
    meski aku berbincang dengan puluhan orang
    jua memikirkan hal yang tak ada kaitan
    Aku hancur,
    sejak
    maaf
    maaf
    maaf
    maaf
    -mu
    kau ulang

    -hancur-

    karena kau juga tak paham
    akan ceritaku tentang kerapuhan
    saat terbelenggu kesunyian

    dan kau,
    kau dilingkupi oleh banyak kasih sayang
    tempat yang nyaman yang membuatmu sekuat ilalang
    yang setiap saat akan datang siapapun,
    atau apapun yang menarikmu
    saat kau tenggelam dalam ketidakwarasan,
    atau tempatmu bersandar
    saat kau tak kuasa menahan tangisan

    asal kau tahu,
    aku tidak baik-baik saja
    dalam halusinasi berkepanjangan,
    putus asa seperti mayat hidup yang berjalan
    dengan rutinitas sedangkan pikiranku melayang
    ke situs dan candi juga jalan-jalan
    tempat kita mengelabui waktu

    Kau pasti akan menyanggah
    bahwa yang lebih gila adalah dirimu
    meski aku tidak akan percaya,
    dengan alasan bahwa kau dalam lingkungan nyaman
    dengan lingkup kasih sayang yang berlebihan
    seperti yang telah kukatakan

    Namun,
    hari ini aku membaca lagi kisah Laila juga Annelies
    dimana perempuan memiliki cara,
    untuk menghayati dengan sangat dalam
    meski mereka tampak menerima
    keadaan dengan tenang

    seperti laila yang mempertanyakan
    tentang sebentuk kegilaan yang dikumandangkan Majnun
    dengan sebuah kalimat yang berujung pada kematiannya;

    "Engkau bisa menggunakan pelampiasan kerinduan dengan puisi,
    bertingkah gila dan berteriak sesukamu.
    Tetapi aku memendamnya sendirian,
    membiarkan api membakar tubuh dari dalam, bertahun-tahun.
    Jadi,
    masihkah kau pantas dirimu yang paling menderita karena kenyataan?"

    Aku semakin paham;
    karena Annelies juga memendam perasaan itu dengan diam,
    sampai api itu merenggut hidupnya
    sementara Minke melampiaskan,
    kemarahan akan kegilaannya
    dengan menulis dan bertualang.

    Baiklah, akhirnya aku paham
    tak pantas mempertanyakan penderitaanmu
    juga kegilaan yang kuanggap
    tak sepadan dengan yang kurasakan

    dan aku yakinkan,
    meski aku laki-laki,
    rasa ini tidak sekedar
    dan sepintas lalu hasrat hilang
    dia telah menetap,
    memintaku tetap berdiri
    berdamai dengan hati,
    dengan satu keyakinan

    bahwa kita akan menghargai dengan kekaguman
    juga satu pengetahuan
    bahwa tak adil bagi kekasih
    -meski tak elok diucapkan lantang-
    untuk jadi bermusuhan,

    dan ini adalah,
    bagian dari kita sebagai terpelajar
    dengan berdamai juga adil sejak dalam pikiran,
    juga rasa dan tindakan

    ingatlah,
    bahwa aku menghayati rasa menjadi sebuah kerinduan spiritual,
    sesuatu yang tak memerlukan kata untuk mengungkapkan
    lalu akan terdengar lewat kesunyian malam dan derai hujan
    seperti Gibran dan May yang meresapi tanpa tatapan
    ----
    Desember 28, 2015

    Berharap Desember cepat berlalu
    Bungur itu, Sakura...

    Labels: ,

    posted by Asdani Kindarto at Monday, December 28, 2015 | 0 comments

    ‹Older







     

     
       
     
    © 2007 dahanpinus.